Rumahsakit – Timeless

Kepergian seorang vokalis pada sebuah band merupakan suatu masalah yang krusial. Apalagi vokalis tersebut sudah menjadi maskot, bukan hanya untuk band tersebut, tapi juga untuk sebuah pergerakan. Yes, Rumahsakit tumbuh dari kultur musik ibukota yang pada saat itu penuh dengan band-band ala heavy rock, punk dan grunge. Rumahsakit muncul pada saat di belahan bumi Eropa sedang terjadi invasi band-band dari Inggris. Britpop, indies, apapun sebutannya, menjadi angin segar di antara komunitas-komunitas underground ibukota.

Setelah album terakhir Nol Derajat rilis sekitar tahun 2001, Rumahsakit nyaris hilang. Tetapi tidak dengan para penggemar mereka. Mungkin itulah yang menjadi pemicu semangat mereka untuk mengeluarkan album 1+2 (sebuah album remake) pada tahun 2012. Terbukti dengan ramainya penonton saat acara launching acara tersebut (lihat disini).

Kabar sedih pun terdengar pada pertengahan tahun 2013. Sang maskot memutuskan untuk resign dan memilih untuk fokus mendalami agama. Para fans yang sudah menunggu untuk untuk album terbaru mereka terpaksa kecewa. But, the show must go on, mereka menemukan vokalis baru yang sangat jauh berbeda karakternya. Penyesuaian inilah yang menjadi patokan dari album terbaru mereka.

Timeless lahir dengan wajah dan musik baru. Masih ada benang merah dengan album-album terdahulu, nuansa britpop, yang kini terdengar lebih modern. Vokalis Arif Muhammad mungkin memang tidak bisa (dan tidak akan) mengganti karakter yang sudah diciptakan oleh Andri LMS. Tapi Arif justru menciptakan karakter sendiri untuk band tersebut.

Dibuka dengan Tak Ada yang Selamanya track yang sangat pas untuk penggambaran album baru ini. Sebuah pembuktian si anak baru. Beberapa track seperti Sandiwara Semu dan 3:56 akan menjadi anthem baru mereka. Apa yang tak Bisa sebuah single tentang keikhlasan akan menjadi favorit di album ini. Kehadiran Iwa K pada Wrong bisa dibilang menjadi angin segar buat para fans lama mereka, dan juga sebagai penggaet fans generasi baru.

Nuansa elektronik pada lagu ONS mengingatkan saya pada MGMT. Duet Arif dan vokalis tamu Priscilla Jamail menambah warna album ini. Demi Hari, Kini Tiada sebuah track yang lumayan, namun mungkin hanya lewat saja buat saya. Ditutup oleh Shout Now, sebuah track meriah yang menjadi sinyal untuk album berikutnya. Jika anda bersabar akan ada sebuah hidden track bernuansa elektronik.

Yang menarik perhatian saya disini justru Duniawi. Sebuah track minimalis yang melodius dan membius. Tak terbayang Andri LMS menyanyikan lagu ini.

Secara keseluruhan, album ini merupakan pembuktian kepada fans kalau mereka masih ada, dan juga pembuktian pribadi sang vokalis di bawah nama besar Andri LMS. Coba dengarkan berulang-ulang satu album utuh, maka anda yang awalnya kecewa akan berbalik takjub dengan kegigihan Arif.

Pop/Rock

Score 7/10

Advertisements