Payung Teduh – Dunia Batas

Kembali ke tahun 2011 saat teman sekelas saya pada saat SMP dan SMA, Ivan, memposting bandnya di Facebook. Bukan karena nama bandnya yang unik yang membuat saya penasaran, tapi penampilan teman saya itu yang bak seniman, berambut gondrong dan berpakaian kumel (hehe). Singkat cerita, itulah saat pertama saya berkenalan dengan Payung Teduh.

Lagu Tidurlah dari album pertama mereka Payung Teduh sudah muncul di YouTube. Dari situ saya tahu kalau Payung Teduh ini sudah aktif dan lumayan dikenal di dalam kampus UI, khususnya komunitas teater Pagupon. Is dan Comi dua sahabat yang sudah saling kenal saat mereka aktif sebagai pemusik teater, tidak heran karya-karya mereka banyak terinspirasi dari adegan-adegan lakon.

Payung Teduh menawarkan karya-karya romantisme ala tahun 60an dengan unsur musik folk, jazz dan keroncong. Selain itu mereka juga bermain kata-kata puitis yang magis. Simak lirik”Datang dari mimpi semalam//Bulan bundar bermandikan sejuta cahaya//Di langit yang merah//Ranum seperti anggur//Wajahmu membuai mimpiku” pada lagu Angin Pujaan Hujan. Di sini dapat kita lihat perumpaan yang dipakai oleh Is tentang kerinduan pada kekasih. Tema yangh sangat umum, tapi tidak ada sedikit pun kesan murahan.

Maju ke tahun 2012, saat Payung Teduh merilis album Dunia Batas yang peluncurannya diadakan di Aksara Kemang. Saat itu hujan sedang turun, namun tidak menghalangi pengunjung untuk hadir. Mungkin memang sudah direncanakan atau memang sudah takdir, hujan justru membawa keintiman mini konser mereka membuat para pengunjung yang berdesakan merasa kalem dan tenang. Sayang saya datang terlambat jadi tidak dapat melihat perform mereka secara langsung. Tak mau pulang dengan tangan hampa, saya membeli album Dunia Batas yang menjadi favorit saya hingga sekarang.

Track pembuka Berdua Saja menawarkan romantisme sepasang sejoli yang ingin saling mengungkapkan perasaan. Dominasi permainan gitar nylon dan vokal berat dari Is mampu membius telinga kita. Menuju Senja seperti membawa kita kembali ke tahun 60an dengan musik jazz-keroncong dipadu unsur string yang syahdu. Saya seperti mendengar saluran radio Kayumanis dari radio tua. Satu track yang menjadi idola kaum hawa, Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan tentang kecintaan mereka kepada para wanita. Simak lirik “Hanya ada sedikit bintang malam ini//Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya” wanita mana yang tidak terbuai kata-kata tersebut. Rahasia menjadi track dengan durasi terpanjang pada album ini. Tapi itu tidak membuat bosan, justru kemisteriusan hadir dalam petikan gitarlele Ivan yang mengiringi permainan piano Mando Gascaro yang juga bertindak sebagai produser. Angin Pujaan Hujan menjadi single utama album ini. Track ini kental dengan nuansa keroncong yang berasal dari kocokan gitarlele Ivan. Pada track ini juga Is menunjukkan ciri khas vokalnya yang berat namun tetap prima pada notasi tinggi. Lalu ada Di Ujung Malam, sebuah track yang menurut saya sangat cocok menjadi musik latar film bertemakan romantisme jaman kemerdekaan. Suara akordion menambah kelam mengiringi lirik Sunyi ini merdu seketika” yang magis. Track Resah menjadi anthem yang selalu mengundang paduan suara massal dikala pentas mereka. Sangat jenius menambahkan instrumen flute yang mampu memberikan nyawa lagu ini. Sangat berbeda dengan versi album pertama mereka yang terdengar kosong. Biarkan menjadi track penyempurna album ini. Diantara semua, track inilah yang sangat terasa nuansa keroncongnya mulai dari kocokan gitarlele Ivan, ketukan drum Cito yang kalem, betotan bass Comi yang mengalir indah ditambah cengkok vokal Is yang diiringi petikan gitarnya yang syahdu. Jangan lupa juga permainan flute Hari Winanto yang dinamis.

Setelah keluar dari Sore, Mondo Gascaro fokus membesarkan label rekaman miliknya, Ivy League. Payung Teduh menjadi pion yang sangat cocok untuk dijadikan batu loncatan guna mengenalkan label ini ke masyarakat. Terbukti kini jadwal panggung mereka yang padat. Ada rasa kesal saya kepada mereka, penantian album selanjutnya yang tak kunjung ada kabar. Payung Teduh yang dahulu hanya dikenal di kalangan komunitas kini telah berkembang menjadi band yang karyanya dikenal luas se Indonesia. Yang dulu saat pertama kali saya putar albumnya di depan teman-teman saya selalu mengundang protes karena musiknya yang bikin mengantuk,  kini menjadi lagu-lagu wajib bermain gitar dikala berkumpul.

Payung Teduh band yang cocok didengar pada saat hujan turun ditemani secangkir minuman hangat sambil kita memandang keluar jendela.

Pop/Jazz/Keroncong/Folk

Score 8,5/10

Advertisements