Radiohead – Moon Shaped Pool

Berawal dari rasa gembira dan kegemasan atas rilisnya album kesembilan band favorit saya sejagat raya, sangat disayangkan apabila saya tidak mencoba mereview album ini. Mohon maklum buat teman-teman pembaca karena saya sedikit keluar jalur dari konsistensi blog ini yang sebenarnya hanya membahas album-album lokal. Alasannya, karena masih sedikit review berbahasa Indonesia membuat saya menjadi gemas.

Moon Shaped Pool bisa dibilang album penantian para fans Radiohead setelah album terakhir mereka The King of Limbs dirilis tahun 2011 yang menurut saya sebuah karya absurd yang indah. Saya berani bertaruh, hanya fans sejati saja yang mendengarkan album ini berulang-ulang.

Anyway, Moon Shaped Pool mendapatkan rating yang bagus dari beberapa kritikus musik. Situs Pitchfork memberi label best new music dengan nilai 9.1. Lalu majalah Rolling Stone memberikan 4,5 bintang begitu pula dengan NME. Pitchfork menyebut album ini “Radiohead move beyond the existential angst that made them music’s preeminent doomsayers, pursuing a more personal—and eternal—form of enlightenment” dan Rolling Stone mendeskripsikan “a haunting, stunning triumph”. Bagaimanapun, saat saya ditanya bagus atau tidak, saya akan menjawab relatif. Tergantung mood dan juga selera pendengar. Mungkin kamu akan mengernyitkan dahi saat mendengarkan Tinker Tailor Soldier Sailor Rich Man Poor Man Beggar Man Thief, atau menghentakkan kaki saat mendengar Burn the Witch.

Yang menonjol dari Moon Shaped Pool adalah musiknya yang seperti scoring film. Kalau kamu sudah melihat video klip Daydreaming kamu akan merasa seperti menonton film sci-fi Christopher Nolan. Johnny Greenwood, otak dibalik musik Radiohead yang eksentrik, memberikan sentuhan string yang gelap dan dalam. Tak heran, Johnny Greenwood memang sudah beberapa kali menangani musik latar beberapa film seperti There Wil Be Blood, Norwegian Wood, We Need To Talk About Kevin dan lain-lain.

Burn the Witch sebagai single pembuka yang saat peluncurannya di YouTube membuat heboh netizen. Beberapa hari sebelum launching, jagat internet sempat dibuat heboh karena hilangnya Radiohead dari dunia maya. Semua akun sosial media mereka hilang termasuk official websitenya. Lalu beberapa fans mendapatkan kartu pos dengan pesan aneh. Kemunculan single pertama mereka yang tak terduga spontan membuat fans kegirangan. Dibuka dengan intro suara string dengan tekhnik col legno, tekhnik memukul senar sehingga menghasilkan efek perkusif, diiringi suara ritme bass dengan efek. Sebuah pembuka yang dahsyat yang memberikan efek sinematik. Reffrain dengan lirik ” Burn the witch, we know where you live” seolah-olah menyihir kita.

Daydreaming menjadi track favorit saya. Ketenangan, kehati-hatian ditambah vokal Thom Yorke yang berdengung menciptakan ambien yang dalam dan gelap namun tenang dan menyenangkan. Kekuatan lagu ini terletak pada unsur string-section yang menjadi esensi sekaligus pemberi nyawa. Banyak spekulasi tentang makna dibalik liriknya. Beberapa pendapat mengatakan lagu ini tentang hubungan yang kandas antara Thom dengan Rachel Owens setelah 23 tahun. Ada juga yang berpendapat tentang kepasrahan, ketakutan akan hal-hal buruk dan juga masalah lingkungan hidup. Apa pun maknanya, lagu ini sudah sangat indah buat saya dan akan menjadi teman saya saat merenung.

Decks Dark melanjutkan kegelisahan Thom pada track sebelumnya. Di sini dia menggunakan metafora UFO yang menutupi langit sehingga menjadi gelap sebagai representasi kegundahan atas masalah pribadinya. Musiknya cenderung depresif dengan sound-sound ambien yang mengambang. Eksplorasi bebunyian gemerincing memberikan nuansa sci-fi ditambah efek gaung yang menambah kesuraman.

Desert Island Disk diambil dari nama sebuah acara talkshow selebritis di BBC Radio yang membahas tentang musik apa yang harus mereka bawa saat mereka terjebak di pulau terpencil. Beberapa selebritis menyebutkan single-single Radiohead, seperti perdana menteri Inggris David Cameron yang menyebut Fake Plastic Trees. Saya tidak tahu apa hubungannya lagu ini dengan acara talkshow tersebut. Dibanding track sebelumnya, Desert Island Disk terdengar lebih riang dengan nuansa akustik. Apabila pada Decks Dark Thom menceritakan kegundahan, di sini dia lebih optimis. “Different types of love are possible” terdengar sangat motivatif setelah sebelumnya deperesif.

Ful Stop menjadi adegan balas dendam atau kemarahan. Musik yang cenderung monoton dengan bebunyian nyaring dari efek entah apa namanya berlatar ketukan drum yang basah sedikit bergema. Di sini vokal Thom mulai bergelora setelah track-track sebelumnya terasa pesimis. “Truth will messed you up” berulang-ulang keluar dari mulutnya seolah-olah kalimat tersebut menjadi mantra sakti yang mampu menyantet musuh (saya tidak tahu siapa yang dimusuhi Thom di sini. Tapi spekulasi saya siapa lagi kalau bukan mantan istrinya).

Glass Eyes track dengan durasi terpendek di album ini. Saya tidak tahu apa yang ada di benak mereka, setelah 2 track sebelumnya yang optimis, Glassy Eyes muncul dengan tema keterasingan dan kecemasan. Suara string yang indah namun menyayat layak diacungi jempol. Lagi-lagi buah tangan Johnny Greenwood tak bisa dianggap remeh. “I just got off the train // A frightening place // Their faces are concrete grey” sebuah penggambaran atas kegelisahan dan ketakutan dalam lingkungan sosial yang terkadang masih suka saya rasakan apalagi di lingkungan baru. Diakhiri dengan kalimat “I feel this love turn cold”. Sangat depresif.

Identikit seperti track yang terlempar dari album In Rainbows. Musik mengawang dengan tempo sedang dibalut suara-suara aneh synthesizer dan ketukan looping drum yang hati-hati. Temanya masih tentang patah hati tapi diiringi dengan kebencian yang dalam. Di sini terdengar suara gitar seperti mencabik-cabik dengan bassline yang adiktif.

The Numbers bercerita tentang protes Thom tentang perubahan iklim, sesuatu yang sedang ia geluti beberapa tahun ini. Memang Radiohead dikenal sebagai band yang peduli dengan lingkungan. “We are of the earth // To her we do return // The future is inside us // It’s not somewhere else” sebuah kalimat ajakan untuk peduli dengan bumi. Didominasi instrumen piano (selain string tentunya) dengan sinkop-sinkop mengejutkan. Saya merasakan pengalaman sinematis seperti menonton adegan pemeran utama yang sedang berkendara mobil melewati tebing-tebing curam dengan lembah di sebelah kirinya.

Present Tense perpaduan ketukan ritme bossa dan samba yang mampu memberi warna dalam album ini. Saya masih tidak jelas dengan tema yang dibahas di sini tapi dari beberapa komentar yang saya baca, lagu ini bertemakan hubungan antara seseorang dengan lingkungan alam dan juga kehidupan sosial. Pada kalimat “In you I’m lost” seperti menggambarkan kepasrahan atas kehidupan, asumsi saya “you” di sini bisa bermakna macam-macam tergantung interpretasi masing-masing pendengar. Seperti saya yang menafsirkan sebagai Tuhan.

 Tinker Tailor Soldier Sailor Rich Man Poor Man Beggar Man Thief track yang terdengar sedikit ganjil dengan ketukan looping drum yang basah bergaung. Seperti Pyramid Song dalam album Amnesiac. Hanya saja apabila Pyramid Song  terdengar sangat gloomy, di Tiker Tailor masih terdengar ceria dengan string section yang lebih tajam.

True Love Waits adalah sebuah track yang sebenarnya sudah tercipta dari tahun 1995. Sempat juga masuk live album I Might Be Wrong pada tahun 2001. Hanya saja Thom belum berniat menjadikannya  sebuah materi utuh dalam album LP. Baru pada Moon Shape Pool Thom menjadikannya materi rekaman studio, entah kekurangan bahan atau menunggu momen yang tepat. True Love Waits terdengar seperti sebuah materi baru dengan komposisi dan aransemen yang lebih dewasa dan kelam. Para fans menganggap lagu ini menjadi salah satu lagu Radiohead dengan lirik paling manis yang pernah dibuat Thom. “I’ll drown my beliefs // To have you in peace // I’ll dress like your niece // And wash your swollen feet // Just don’t leave // Don’t leave”.

Total 52 menit lamanya saya terbius ambien yang dibangun Radiohead dalam album ini. Menurut saya Moon Shaped Pool merupakan album mereka yang paling indah dan dalam karena masuknya unsur orkestra oleh London Contemporary Orchestra. Tangan dingin Johnny Greenwood mampu memberi pengalaman sinematik seperti sedih, senang, terisolir, kecemasan dan lain-lain. Ditambah vokal Thom yang menurut saya cenderung kalem seperti pada album The King of Limbs.

Kedewasaan mungkin kata yang tepat untuk penggambaran musik mereka. Jangan harap ada sound distorsi ataupun suara teriakan Thom seperti pada album-album awal. Album-album seperti Pablo Honey, The Bends, OK Computer terdengar seperti masa lalu yang sudah lama mereka lewati. Lalu Kid A, Amnesiac menjadi proses perjalanan mereka menuju alam baru. Hail to the Thief dan In Rainbows seperti proses penggabungan dari album-album mereka sebelumnya. The King of Limbs menjadi era baru proses menuju pendewasaan, yang menurut saya agak sedikit nyeleneh, dan akhirnya Moon Shaped Pool menjadi titik pendewasaan mereka. Saya menjadi penasaran akan seperti apa album mereka berikutnya karena  Moon Shaped Pool ini boleh dibilang seperti seri pelengkap sebuah cerita panjang dimana klimaksnya ada di sini. Toh, serial Harry Potter saja yang sudah selesai bisa ada tambahan cerita, tak menutup kemungkinan dengan mereka.

 

Rock/Ambient

Score: 9,5/10

Advertisements