Efek Rumah Kaca – Sinestesia

Ketika sebuah karya tercipta hanya demi popularitas dan materi semata, maka ia tak akan bertahan lama. Tergerus dimakan zaman, habis dilibas modernitas. Sebaliknya apabila sebuah karya tercipta dari hati demi budaya dan karya seni, maka ia akan abadi dan terus terpatri di dalam hati setiap insani. Tak mudah hilang walau terlupakan, tak akan habis walau waktu berjalan.

Membahas Sinestesia seperti mencoba memahami hidup, memaklumi kematian, berbicara pada penguasa ataupun tenggelam dalam ketakutan. Bahkan semua urusan teknis, artwork, produksi atau apa pun yang menyangkut dengan album ini seolah seperti melebur menjadi satu menghasilkan sebuah masterpiece. Dari segala departemen, Sinestesia terbangun dengan konsep dan perencanaan yang kuat sehingga mampu berkembang menjadi sebuah karya yang orisinil dan abadi.

Tujuh tahun lalu, seorang anak yang baru lahir, sekarang sudah masuk kelas 2 SD dan seorang pria yang masih kuliah, sekarang sudah memiliki seorang anak. Sebuah analogi tentang perjalanan waktu yang tidak singkat. Begitu pula dengan Efek Rumah Kaca. Mereka yang tujuh tahun lalu, tentu saja beda dengan yang sekarang baik secara personal maupun band.

Saya termasuk generasi yang tumbuh dengan Efek Rumah Kaca (ERK). Saat kemunculan mereka pada tahun 2007, dengan lantang saya ikut menyanyikan lagu Cinta Melulu. Saat itu mereka sangat meledak-ledak, sangat tajam mengkritik, sangat hingar bingar dan saya dengan pemikiran yang masih sederhana tentu saja langsung jatuh cinta dengan mereka. Satu album mereka ada di laptop & ipod saya. Tak bosan-bosan saya ulang berkali-kali menemani saya saat mengerjakan tugas kuliah.

Setahun kemudian mereka merilis Kamar Gelap dengan konsep musik yang lebih matang dan tentu saja lirik yang lebih tajam. Saya pun makin jatuh cinta dan mungkin sudah cinta mati dengan mereka. Skena indie (dan mungkin mainstream) langsung bergetar karena kehadiran mereka yang seolah langsung menohok ke puncak popularitas. Tapi tentu saja bukan itu tujuan mereka. Cholil, Adrian dan Akbar justru tetap membumi dan menjalani kehidupan seperti biasanya, bermusik, belajar, bersosialisasi dan sebagainya.

Kondisi kesehatan Adrian yang kian menurun ditambah kesibukan Cholil yang sedang menyelesaikan studinya di Amerika menjadi alasan terlantarnya album ketiga ini. Padahal beberapa materi sudah mereka siapkan bahkan sejak album pertama. Saya masih ingat sekitar tahun 2010, saya tanya lewat Twitter mereka perihal album terbarunya, dengan ramah mereka menjawab masih on progress. Kabar gembira pun keluar pada tahun 2013 saat Cholil mengumumkan Pandai Besi (yang saat itu saya kira judul album baru ERK) akan rilis. Walaupun sedikit kecewa karena ternyata itu adalah proyek sampingan mereka (Cholil & Akbar dengan teman-teman) untuk mengisi kekosongan album ERK dan materi album ini adalah lagu-lagu ERK yang diaransemen ulang, Pandai Besi mampu mengobati kerinduan saya. Secara teknis, lagu-lagu daur ulang pada Daur Baur ini terasa sangat berbeda dengan versi aslinya.

Sinestesia lahir seiring berjalannya waktu. Tidak ada deadline dan tendensi dari pihak lain. Sinestesia justru lahir karena mereka ingin bersuara, mereka ingin berkarya dan mereka ingin menggetarkan lagi Indonesia. Sinestesia juga lahir sebagai bukti kecintaan mereka (Cholil, Akbar, teman-teman Pandai Besi dan juga nama-nama lain) kepada Adrian yang belakangan menjadi tidak aktif lagi di atas panggung ERK (sebagai gantinya, Poppi Airil dari Pandai Besi menjadi musisi pembantu mengisi kekosongan bassist, namun untuk album ini Adrian masih memberi andil) dengan memberi judul lagu-lagu mereka dengan nama warna-warna seperti Merah, Hijau, Biru, Jingga, Putih dan Kuning yang konon warna-warna tersebut keluar dari mata Adrian saat mendengarkan lagu-lagu tersebut.

Sinestesia terdiri dari 6 track dengan durasi yang cukup panjang (untuk ukuran lagu Indonesia). Masing-masing track terdiri dari 2-3 fragmen (lagu) yang saling berhubungan. Secara musikalitas, album ini sangat terpengaruh oleh Pandai Besi, yang menurut hemat saya sepertinya memang dari awal Sinestesia dikonsepkan seperti itu namun dikarenakan Pandai Besi yang rilis terlebih dahulu jadinya terlihat seperti ini (bingung?). Tema yang diambilnya pun lebih beragam, tentang kehidupan dan kematian, tentang ilmu sosial, tantang politik dan lain-lain.

Merah menjadi track pembuka dengan intro yang membara. Fragmen pertama berjudul Ilmu Politik tentang kegusaran mereka dengan dunia politik Indonesia. Simak lirik “Dan kita arak mereka bandit jadi panglima // Politik terlalu amis dan kita teramat necis // Slalu angkat mereka sampah jadi pemuka // Politik terlalu najis dan kita teramat miris” menjadi gambaran keadaan sekarang ini didalam negeri. Masuk ke fragmen kedua berjudul Lara Dimana-mana degan musik sedikit lebih tenang. Fragmen ini bercerita tentang keadaan dimana kelaliman menguasai. “Sampai kapan kau biarkan Dia tak berperan // Ditelantarkan harapan, dia kesakitan // Terburai berantakan, tak keruan // Marah di mana mana”. Sekitar menit ke 7, ketukan drum berubah menjadi (menurut saya) agak jenaka. Tanda masuk ke fragmen ketiga yang berjudul Ada-ada Saja. Musik menjadi ceria dengan vokal choir yang menyanyikan lirik sindiran. Simak lirik bernada sindiran berikut “Moralis, merasa paling baik // Macam yang paling etis, awas jatuh menukik // Sang martir, inginnya adu fisik // Cupet dan sesat pikir, buah intrik politik” yang cukup menyentil beberapa pihak. Track ini ditutup dengan musik instrumen yang cukup panjang dan monoton tapi mampu menciptakan nuansa yang tenang setelah dihajar oleh lirik-lirik pedas dan tajam.

Biru, track yang dirilis paling awal, berisi 2 fragmen yang saling mengisi. Dibuka dengan suara erangan gitar, Pasar Bisa Diciptakan memberikan nuasa musik yang gelap namun tetap menghentak. “Kami mau yang lebih indah // Bukan hanya remah remah Sepah, sudahlah” seolah menjadi seruan kaum pemberontak (di sini menyasar kepada masyarakat indie) yang melayangkan protes atas komersialisme seni yang mengakibatkan rendahnya kualitas karena (yang kata kaum kapitalis) mengikuti tren pasar. Di sini seni berubah menjadi produk ekonomis semata yang hanya memperhatikan keuntungan tanpa mempedulikan kualitas. ERK dengan lantang mengatakan Pasar Bisa Diciptakan, jadi seniman-seniman berkualitas tidak perlu takut karya mereka tidak laku. Karena pada hakekatnya sebuah karya seni berkualitas akan terus abadi. Fragmen kedua berjudul Cipta Bisa Dipasarkan. Menyambung fragmen pertama, mereka seolah mengatakan sebuah karya biar bagaimanapun harus/bisa dipasarkan. “Oh cahaya, akhirnya kita sampai juga // Temukannya, sinarnya pun dibagi rata // Berbinar binar hidup bergelora” di sini tertulis perasaan atas pencapaian sebuah karya. Namun pada bagian akhir “Kegelapan masih membayang // Menyelimuti, menolak pergi // Mencari ruang gerak ditentang // Dan menjadi ironi”  menggambarkan kesusahan sebuah karya untuk disosialisasikan dalam masyarakat yang masih skeptis seperti sekarag ini. Tentu saja ini menjadi sebuah tantangan bagi para seniman. Menurut pengakuan mereka, track ini adalah sebuah sekuel/prekuel dari single terdahulu Cinta Melulu.

Jingga dibuka dengan fragmen berjudul Hilang yang sebenarnya sudah pernah mereka rilis pada tahun 2010 sebagai single dalam album kompilasi Amnesty International. Intro suara drum yang tenang bertalu dengan petikan gitar yang suram ditambah suara falseto Cholil mampu menciptakan kesedihan dan kemarahan secara bersamaan. Fragmen ini bercerita tentang aksi kamisan yang merupakan aksi protes para keluarga korban kerusuhan Mei 98 untuk menuntut keadilan. “Rindu kami seteguh besi // Hari demi hari menanti // Tekad kami segunung tinggi // Takut siapa? semua hadapi” menjadi lirik dengan kemarahan di satu sisi, namun kesedihan di sisi lain. Pada bagian akhir terdapat suara Adrian membacakan nama-nama korban hilang yang membuat saya merinding. Masuk ke fragmen kedua berjudul Nyala Tak Terperi musik terasa sangat kontras. Setelah sebelumnya musik berbunyi riuh, kini menjadi sangat tenang. Tak ada ketukan drum, hanya ada permainan gitar diiringi nyanyian lirih Cholil dengan latar belakang suara vokal yang terdengar pilu namun optimis. Fragmen ini seolah-olah menjadi gambaran mereka para pahlawan reformasi menuju keabadian. Simak lirik “Segala gulita sirna terkikis doa // Semua indra terbuka berfungsi // Mata yang hilang, Berganti hingga tak terbilang // Cahaya, ku jelang” menjadi representasi keadaan mereka. Suara melodi piano menjadi tanda masuk fragmen ketiga Cahaya, Ayo Berdansa yang instrumental. Lanjutan dari fragmen sebelumnya saat mereka berubah menjadi cahaya lalu berdansa. Pada fragmen ini segala emosi seperti keluar mulai dari sedih, senang, takut dan marah.

Hijau track terpendek dari album ini berdurasi hanya sekitar 7 menit. Berbeda dengan track yang lain, Hijau berjalan lurus dari awal hingga akhir tanpa perubahan musik yang terasa. Fragmen pertama berjudul Keracunan Omong Kosong berisi sindiran kepada para calon pejabat yang pandai berkoar-koar pada saat kampanye namun cuma omong kosong saja. Lirik berbunyi “Apa yang kau tawarkan, bukan pengetahuan // Ucapan miskin pemikiran” terasa sangat mewakilkan situasi tersebut. Fragmen kedua berjudul Cara Pengolahan Sampah masuk tanpa disadari. Fragmen ini bercerita tentang permasalahan sampah dan cara menanggulanginya. Eits, jangan tertipu dulu. Kalau kalian jeli, di sini kalian akan menemukan makna sebenarnya dari fragmen ini. Pada bagian awal mereka mengatakan “Dalam demokrasi Sampahpun meninggi // Cari eksistensi // Bukan disesali, atau dimungkiri”. Lalu pada bagian akhir terucap jelas “Kita konsumsi sampah (konsekuensi demokrasi) // Kita produksi limbah (ide basi yang beraksi) // Kita produksi limbah (miskin visi unjuk gigi)”. Di sini terbaca jelas bahwa yang dimaksud dengan sampah adalah mereka-mereka yang merasa pintar namun sebenarnya berotak dangkal, hanya untuk mengejar kekayaan, kekuasaan atau ketenaran semata.

Putih menjadi track dengan musik yang bergerak lambat namun dinamis dengan tema tentang eksistensi. Fragmen awal berjudul Tiada yang terdengar murung dan sedih bercerita tentang proses kepergian seseorang menuju kematian. Lagu yang diilhami dari obrolan mereka dengan Adi Amir Zainun. Seorang sahabat yang sayangnya lebih dulu pergi sebelum lagu ini rampung. Tiada dibuka dengan musik minimalis bernuansa sendu dengan suara falseto Cholil diiringi narasi oleh Adrian. Sedih, takut, senang bergejolak semuanya di sini. Penggambaran dari lirik yang bercerita seolah-olah kita adalah arwah yang meninggalkan orang-orang tercinta. Pada akhir fragmen musik berubah menjadi riuh yang tiba-tiba secara dramatis berubah menjadi pelan lagi. Tanda masuk ke fragmen kedua yang berjudul Ada. Jika fragmen awal bercerita tentang kematian, fragmen ini bercerita tentang kelahiran. Musik pun berubah menjadi lebih optimis dengan suara petikan gitar yang dalam diiringi segala bebunyian alat musik tiup. “Dalam dirinya, terhimpun alam raya semesta // Dalam jiwanya, berkumpul hangat surga neraka” terdengar seperti sebuah do’a dan harapan untuk anak-anak penerus generasi. Di antara semua lagu di album ini, mungkin Putih yang paling personal baik untuk ERK maupun para pendengarnya.

Kuning track terakhir album ini bertemakan kehidupan sosial yang beraneka ragam. Bagian intro mengingatkan saya akan lagu Pasir milik Tigapagi yang vokalnya memang diisi oleh Cholil. Fragmen pertama berjudul Keberagamaan yang langsung menyentil kaum agamis ekstrim pada lirik “Manusia menafikan Tuhan // Melarang atas perbedaan // Persepsi dibelenggu tradisi // Jiwa yang keruhpun bersemi // Nihil maknanya Hampa surganya”. Lirik tersebut langsung membuat saya berpikir tentang konsep hidup beragama yang dimana Indonesia menjadi salah satunya. Ada ketenangan dan keteguhan hati pada lirik “Karena cinta bersemayam dalam jiwa” yang menurut saya menjadi semancam mantra dalam hati di saat perbedaan menjadi semakin sensitif dalam masyarakat. Fragmen kedua Keberagaman masuk dengan tenang. Permainan flute Wahyu Hidayat terasa dominan disini yang mampu memberikan nuansa dramatis dan sinematis. Bila Keberagamaan terasa menyentil, maka pada Keberagaman terasa lebih damai. ERK seolah-olah mengatakan kalau manusia itu sama dihadapan Tuhan. Yang membedakan hanyalah amal perbuatan di dunia. Pada lirik “Bila matahari sepenggal jaraknya // Padang yang luas tak ada batasnya // Berarak beriringan // Berseru dan menyebut ….Dia..” bisa menjadi bahan renungan kita yang pada akhirnya akan kita hadapi suatu saat kelak.

Sinestesia merupakan sebuah karya yang lahir dari ketulusan. Di saat musisi-musisi dan band-band lain mencoba untuk menampilkan karya yang terdengar beda, modern, komersil, meledak-ledak ataupun nyeni, Sinestesia muncul dengan tenang, pelan-pelan dan jujur. Pendewasaan jelas terdengar dalam album ini. Dibandingkan 2 album sebelumnya, Sinestesia tumbuh menjadi karya tersendiri. Kita tidak bisa serta merta membandingkannya dan memutuskan mana yang lebih baik. Karena karya-karya ERK itu bersifat relatif dimana kita tidak dapat melihat dari satu sisi saja. Sebagai contoh, membandingkan lagu Cinta Melulu dengan Biru tentu akan terasa aneh apabila hanya dilihat dari segi komersilnya saja. Saya ingat mereka pernah tampil di Dahsyat membawakan lagu Cinta Melulu. Bukannya merasa jengah, justru saya melihat kalau mereka itu seperti menertawakan industri musik negeri ini. Andai mereka tampil lagi di Dahsyat, apakah mereka berani membawakan Biru?

Pop/Rock

Score: 9,5/10

Advertisements